Masyarakat Cerdas Menolak Hoax

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang meliputi pemilihan presiden dan wakil presiden, anggota DPR serta DPD,  secara resmi dimulai dengan kampanye pemilu serentak yang  terhitung sejak tanggal 23 September 2018 hingga masa pencoblosan pada 17 April 2019. Ini merupakan kali pertama pemilihan presiden dan anggota legislatif dilakukan secara bersamaan.

Seperti yang kita tahu, kampanye selalu menjadi salah satu tahapan krusial di setiap penyelenggaran pemilu. Apalagi pemilu yang dilaksanakan serentak ini dapat memicu kompleksitas persoalan yang rumit, terutama bagi para pemilih.

Kompleksitas yang dihadapi seperti harus memilih dan mencoblos surat suara sebanyak lima kali: yaitu memilih Presiden, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD tingkat kabupaten.

Mungkin hal ini tidak terlalu menjadi masalah bagi para pemilih yang sudah teredukasi, tapi bagi masyarakat yang tidak mendapat informasi, ini bisa menimbulkan kebingungan dan permasalahan sendiri.

HOAX       

Kekompleksitasan itu membuktikan bahwa untuk menyukseskan Pemilu 2019 yang damai dan berkualitas tidaklah sederhana. Formulasi teknisnya terus berkelindan: menaati peraturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku,  mengadakan sosialisasi, menghindari politik uang, mengawal surat suara, dan seterusnya.

Di sisi lain, rupanya ada masalah kronis nan mematikan yang menjangkit negeri kita, yaitu penyebaran berita palsu atau Hoax/Hoaks.

Menurut KBBI, Hoax mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), hoax merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Sedangkan menurut Werme (2016), mendefiniskan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoax bukan sekedar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta (Wikipedia).

Semakin menjamurnya jumlah hoax, terutama di musim politik menjadi ancaman bagi kualitas demokrasi Indonesia. Alih-alih menggunakan media sosial untuk beradu gagasan dan program, yang terjadi lebih banyak media sosial menjadi sarana untuk penyebaran kampanye hitam, menciptakan suatu keresahan, memunculkan fitnah, pembunuhan karakter, hingga tersulutnya emosi dan sentimentil pada masyarakat. Masalah ini tentu menjadi ancaman serius bagi masa depan demokrasi kita jika tidak tangani dengan baik.

Hal ini disadari sepenuhnya oleh negara yang kemudian menerbitkan Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.”

Ramai-Ramai Melawan Hoax

Pendiri Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti, seperti dikutip Tempo, 10 Maret 2018, menyebutkan, penyebaran hoax serta isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) saat ini menjadi cara ampuh untuk memenangi pemilihan umum. Dua hal itu sangat mudah mempengaruhi masyarakat. Ray berujar, hoax dan isu SARA menjadi ampuh lantaran politik uang sudah tak terlalu berpengaruh ke publik.

Bagaimana tidak?  Penggunaan gadget dan internet di Indonesia cukup tinggi, namun tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang good netizenship atau kode etik di media sosial.

Fenomena ini dikhawatirkan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memfabrikasi konten hoax yang dapat memperkeruh panggung debat publik, hingga obyektifitas masyarakat terhadap sebuah pemberitaan menjadi kabur. Jika tidak ingin kualitas demokrasi kita terpuruk, maka ada beberapa hal yang harus segera kita lakukan.

Pertama, tokoh masyarakat dan agama, diharapkan dapat ikut mengajak masyarakat agar menghindari informasi hoax. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius dan beriman, maka peran tokoh-tokoh agama sangat penting dalam meyakinkan umatnya untuk bersama-sama memerangi hoax.

Para tokoh masyarakat dan agama dapat menggelar dialog, silaturahmi antar warga, deklarasi pemilu damai, memperbanyak literasi informasi dan menerapkan prinsip tabayyun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya).

Kedua, masyarakat, sebagai kunci utama pemberantasan informasi palsu atau hoax. Semua pengguna media sosial punya tanggung jawab untuk ikut mengikis penyebaran hoax. Pengguna yang bertanggung jawab adalah pengguna yang tidak langsung membagikan informasi yang diterimanya.

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi memberikan delapan tips ampuh untuk mengidentifikasi konten-konten yanng hoax di dunia maya. Tips tersebut antara lain: cek keanehan yang ada, cek kesesuaian judul dan isi berita, perhatikan sumber berita, ketersediaan data pendukung, cek tanggal berita, cek kredibilitas penulis,  cek keberpihakan, dan verifikasi ke pihak terkait (detik.com).

Lantas, apa langkah selanjutnya bila kita sudah terbukti menemukan berita hoax yang meresahkan di media sosial? Kita bisa melaporkannya lewat situs Turn Back Hoax di alamat data.turnbackhoax.id, situs yang dibangun oleh Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax. Situs ini dapat mempermudah anggota masyarakat yang ingin mengidentifikasi hoax, sekaligus berfungsi sebagai database aneka hoax yang beredar di Indonesia.

Ketua Panitia Masyarakat Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho, seperti dikutip Tempo 4 Januari 2017,  mengatakan, perlawanan terhadap hoax  membutuhkan keseriusan, karena penyebaran hoax tidak bisa dianggap sepele.

Ketiga, pemerintah dan penegakan hukum, dapat membuat lembaga khusus untuk memerangi berita bohong, memblokir situs-situs yang terbukti aktif menyebarkan kabar palsu dan fitnah, tegas memberi sanksi hukum bagi orang atau kelompok yang melanggar  UU ITE. Ketegasan hukum ini sangat penting dilakukan untuk menjaga ketahanan informasi masyarakat yang dapat dilemahkan. Jangan sampai hoax yang menguntungkan rezim berkuasa dibiarkan, sementara yang dianggap “mengganggu” pemerintah dibabat habis. Kalau tidak, pemerintah akan dituding ikut mendukung penyebarkan hoax.

Kementerian dan lembaga pemerintah juga harus memaksimalkan Divisi Kehumasan yang dapat bersinergi, merespon cepat, dan  mengklarifikasi jika ada berita atau isu bohong di jagat dunia maya lewat website jaringan pemberitaan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Melawan Hoax Demi Suksesnya Pemilu 2019

Upaya melawan hoax di tahun politik ini bukanlah pekerjaan satu pihak saja, melainkan kewajiban masyarakat, tokoh publik, penegak hukum, jurnalis, akademisi, dan industri aplikasi, dan sebagainya, demi menjunjung kualitas demokrasi bangsa.

Betapapun bising dan gaduhnya tahun politik saat memasuki masa kampanye, masalah keamanan dan kedamaian Pemilu harus tetap jadi prioritas. Sengitnya rivalitas dan panasnya kontestasi bukan alasan untuk mencederai kedamaian dan keamanan yang selama ini kita harapakan.

Kita percaya bahwa aktifitas kampanye yang lebih edukatif akan mengurangi  merebaknya intrik dan kabar bohong sehingga harapan agar pemilu 2019 lebih berkualitas, damai dan bermartabat bisa terwujud. Kita ingin situasi menjelang Pilpres tetap terkendali, tidak ekslatif, dan eksplosif .

Maka pada akhirnya, pola pikir kritis masyarakat yang menjadi penentu kualitas informasi yang beredar di dunia maya. Semakin kritis masyarakat menerima informasi, maka semakin kecil kemungkinan hoax beredar.

Iklan

Keterbatasan yang Menyelamatkan

26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatera. Hanya dalam beberapa jam, gelombang tsunami menggulung tanah Aceh. Tak terhitung jumlah korban jiwa telah melayang sia-sia. Semua orang berduka ketika itu.

Di tanggal dan tahun yang sama, di provinsi berbeda, malang juga dirasakan oleh keluargaku. Salah satu saudara laki-lakiku harus merelakan tangan kanannya diamputasi karena kecelakaan kerja yang dialaminya di salah satu perusahaan swasta kelapa sawit, di Sumatera Utara.

Ketika itu dia bermaksud membetulkan mesin kelapa sawit yang berhenti mendadak saat sedang beroperasi. Tanpa memeriksa apakah alat itu sudah benar-benar dalam keadaan off (mati), dia langsung memasukkan tangan kanannya ke dalam mesin pengolah itu. Mesin berhasil menyala, namun tangannya terlanjur dilahap habis.

Tangisan dan teriak pun pecah seketika saat Ayah dan Ibu mendengar berita malang itu lewat telepon.

Kecelakaan kerja itu membuatnya tak bisa bekerja (mungkin menjalani hidupnya) dengan sempurna lagi. Tahun berganti tahun, Ibu masih terus meratapi nasib yang menimpa salah satu anaknya itu.

“Seandainya bisa, aku ingin sekali menggantikan posisinya,” ujar Ibu kepadaku di suatu sore.

Untungnya perusahaan itu masih mau memperkerjakan abangku dengan poisisi baru, yang hanya berkutat dengan layar komputer. Ya, semua pekerjaan kini dilakukannya hanya dengan satu tangan. Menulis, makan, mencuci, mengetik, semuanya.

Namun dia, abangku Edwin Juanda Turnip, tak sedikitpun pernah menunjukkan raut sedih di hadapan kami. Hingga untuk meneteskan air mata di depannya adalah suatu hal yang memalukan bagiku, bagi kami yang lemah ini.

Tanggal 26 Desember 2004 menjadi hari yang tak kan terlupakan bagi keluargaku. Tahun berganti tahun, namun dia tetap menjalani hari-harinya dengan penuh syukur dan tegar.

Oase di Tengah Kekeringan

Berangkat dari keluarga sederhana, membuatku harus berjuang sedikit lebih keras menjalani kehidupan. Waktu lulus SMA, aku sempat memendam asa ingin mencicipi dunia perguruan tinggi, karena sadar bahwa ayah dan ibu tidak mampu untuk membiayai perkuliahanku nanti.

Ayah adalah seorang buruh harian di sebuah toko kain di Medan, sementara Ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga. Penghasilan yang diberikan Ayah hanya cukup untuk menutupi biaya kehidupan sehari-hari.

Namun Tuhan menunjukkan kebesarannya, Abangku yang berada di kota lain menghubungiku, memberi kelegaan kepada kami. Dengan usahanya, dia berjanji akan membiayai perkuliahanku. Akupun masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Medan. Dia mengirim uang kuliah, uang kost, membelikanku laptop, hingga membayar uang bulananku. Hal yang tidak bisa dilakukan orang tuaku karena keterbatasan ekonomi.

Hingga pada akhir tahun 2014, ketika aku sedang mengikuti kelas di kampus, aku mendapat kabar bahwa ayah terkena penyakit stroke. Ayah tak bisa lagi bekerja seperti biasanya. Hatiku terpukul, kehidupan keluargaku kembali terpuruk.

Ayah harus menjalani hari-harinya di atas tempat tidur selama berbulan-bulan. Tapi siapa yang bisa membuat kami bisa bangkit bersemangat kembali? Dialah, abangku.

Setiap kali aku jatuh, ayah dan ibu hampir menyerah, dia selalu ada untuk memberi semangat. Padahal kalau dipikir-pikir, penghasilannya tidaklah seberapa mengingat pekerjaan yang harus dijalaninya dengan ruang gerak yang sempit. Sungguh, jarak dan keterbatasan anggota tubuhnya tak membuatnya lupa untuk mencintai kami di sini.

Berangsur-angsur Ayah bisa berjalan walau tertatih. Selain membiayai kuliah, abang juga mengirimkan uang untuk membeli obat ayah dan membayar biaya terapinya di rumah sakit.

Pada tanggal 26 Mei 2015 aku merayakan wisuda kelulusanku. Ayah, Ibu, dan Abang datang menemuiku. Aku sangat bahagia. Tapi saat itu aku hanya mempunyai satu undangan untuk memasuki ruangan Auditorium. Lalu aku menanyakan kepada Ibu, siapa di antara mereka yang akan menemaniku masuk ke sana.

“Yang pantas menemani dan menyaksikanmu berdiri gagah menggunakan toga adalah abangmu. Karena dialah yang berjuang untukmu dan kita selama ini. Kamu tahu? Abangmuu pernah berkata kepada Ibu, bahwa sebelum kamu lulus kuliah dia tidak akan menikah. Seluruh  perhatian, dicurahkannya hanya kepadamu, adik kesayangannya,” jelas Ibu.

Mulutku terbungkam, tidak bisa berkata-kata. Aku langsung memeluk Ayah, Ibu, dan Abangku dengan penuh rasa haru di tengah keramaian.

Aku sungguh beruntung mempuyai Abang seperti dia.

Bersama wisadawan dan wisudawati lainnya aku pun berdiri dengan bangga menyanyikan lagu kebangsaan dan mars kampus. Akhirnya aku bisa menyelesaikan perkuliahanku dengan nilai yang memuaskan. Tentunya berkat perjuangan dan pengorbanan Abangku, Edwin.

Sambil menitikkan air mata, aku menatap ke arahnya.

“Ya Tuhan, berilah dia rezeki, kesehatan, jodoh, dan umur yang panjang. Dia mungkin tidak sempurna secara fisik, tapi hatinya sangat tulus dan penuh kasih. Aku sangat menyayangi dia,” pintaku dalam hati.

Tiga bulan setelah kelulusanku, aku langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan penerbitan buku sebagai editor. Aku bersyukur kini dapat membantu orangtuaku di rumah. Tak lagi mengharapkan bantuan Abangku, kini aku yang mencoba menggantikan posisinya.

Perlahan aku mulai membalas sedikit demi sedikit pengorbanannya, walau ku tahu  pasti semua jasanya tak kan terganti.

Abangku tinggal di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu. Daerah di mana sinyal, fasilitas, dan pembangunan masih minim (tidak seperti di kota Medan), dan berkomunikasi menjadi hal yang sangat penting bagi kami agar dapat selalu merasa dekat.

Tak perlu repot untuk mengirim pulsa paket internet, atau tagihan lain kota tempat tinggal Abangku, aku memillih layanan mobile money dalam bertransaksi.

Seperti yang diketahui, Pemerintah Indonesia sendiri mendukung penuh kebijakan dalam menerapkan cashless society, dan untungnya Telkomsel menghadirkan layanan mobile money atau uang elektronik yang disebut dengan TCASH.

Aku merasakan beragam kemudahan dan penawaran menarik ditawarkan Telkomsel melalui TCASH. Jarak dan waktu tak jadi penghalang untuk dapat membantu Abang melalui ponsel yang kini ku anggap sebagai dompet digitalku.

Kini setiap bulan secara rutin aku mengirimkan pulsa, mengisi paket internet, membayar PDAM dan token listrik cara pakainya  lewat TCASH kepadanya sebagai bentuk terima kasih karena sudah pernah berkorban untukku.

Tak hanya itu, kepada Abang juga ku beritahukan bahwa TCASH TCASH kini sukses menjangkau sekitar 25 juta pelanggan di 34 provinsi di Indonesia, serta bisa digunakan di lebih dari 75.000 merchant outlets. Bila ingin mempunyai Aplikasi TCASH  dia bisa mengunduh melalui app store atau play store yang ada di ponselnya.

Pada tanggal 10 Oktober 2015 abangku akhirnya menemukan tambatan hati yang mau menerima dia apa adanya. Kemudian mereka menikah dan dikaruniai sepasang anak yang lucu. Kebahagiaan semakin terasa di hidupnya dan juga hidupku.

Namun meski dia sudah menikah, segala kebbaikannya tak akan pernah ku lupakan. Aku berdoa semoga kelak aku bisa membiayai anak-anaknya kuliah seperti yang dilakukannya kepadaku dulu. Ya, semoga Tuhan mengabulkan doaku ini. Amin.

 

 

 

#BuatKamu #pakeTCASH

 

Ketika Mem-bully itu Dianggap Keren

Jujur perasaan saya sedih saat menyaksikan video pem-bully-an yang dilakukan oleh generasi-generasi bangsa saat ini. Contohnya saja video bully oleh anak SMP dan MAHASISWA yang kini videonya tersebar. Saya percaya di luar sana juga masih banyak adik-adik kita di  lingkungan sekolah maupun kampus yang jadi korban perlakuan tidak manusiawi seperti ini.

Terkadang akal sulit menemukan jawaban atas dasar apa sebenarnya mereka melakukan hal tidak terpuji itu. Merasa diri paling hebat? Saya pikir orang bisa disebut hebat kalau dirinya  mempunyai prestasi yang berbarengan dengan akhlak baik. Atau merasa paling pintar? Paling cantik? Paling ganteng? Paling kaya? Pengen punya banyak pengikut? *Pengikut abal-abal*

Karena yang saya tahu, orang yang suka mem-bully, mengejek, mengolok-olok, dan mempermalukan demi kesenangannya sendiri itu adalah orang-orang dengan reputasi JELEK. Maka mereka mencari kepuasaan dengan cara menyiksa orang lain.

Ketauhilah, (bila kamu pelajar dan punya bakat mem-bully): Jadi orang yang (sok) hebat diantara teman-teman lainnya itu GAK KEREN!. Jadi orang yang disegani apalagi ditakuti itu GAK BANGET! kecuali kamu mau dipanggil hantu. Apa yang kamu dapat dari itu? Ketenaran? Kekuasaan?  Emang ketenaran dan kekuasaaan kamu itu bisa bikin nilai Matematika kamu naik? Bisa bikin kamu jadi Cum Laude? Please.. jangan berlagak seperti katak dalam tempurung. Turuti apa kata orang tua, rajin ibadah biar hati dan pikiran cerah. Kasihan orang tua yang biayai kamu sekolah, mungkin mereka gak cerita kalau untuk mendapat serupiah aja itu susaaaahhh. Kalau gak mau sekolah dan ingin mendalami ilmu ‘kehebatan’ itu, bilang aja sejujurnya, mungkin ada tempat lain yang cocok untuk menyalurkan bakatmu. Di jalanan sana banyak orang keras, kreak, punya nyali gede, yang gak bisa hidup tanpa adu jotos. Mungkin kamu mau bergabung?

Perlu digarisbawahi dan dipertebal, orang yang jadi korban bullyan itu gak hanya mendapat kekerasan secara fisik, ada hal yang lebih long lasting dari situ, yaitu: PSIKIS-nya, kejiwaannya. Itu gak semudah luka tangan yang bisa cepat sembuh. Jiwa dan hatinya akan merekam semua kejadian yang menimpanya. Dan gak menutup kemungkinan, luka itu bisa merubah kepribadian seseorang menjadi lebih tertutup, minder, dan antisosial. Orang-orang seperti itu akan sulit berkembang. Bahkan pada tingkat ekstrim, korban bully-an bisa berbalik menjadi jahat sebagai upaya atau usaha pertahanan diri dan juga membalaskan dendamnya kepada orang lain. Bila sudah seperti ini siapa yang mau bertanggung jawab?

Orang tua merupakan alasan nomor satu dibalik terbentuknya karakter seorang anak (nomor satu bukan satu-satunya). Karena memang pada kasus tertentu orang tua tidak dapat disalahkan sepenuhnya atas perilaku tidak terpuji yang dilakukan anaknya. Tapi menurut saya, keintiman orang tua dengan anaknya itu sangatlah perlu. Orang tua yang bisa berperan layaknya seorang sahabat sangatlah baik. Anak tidak lagi memandang ayah ibunya sebagai orang yang benar-benar harus disegani, yang hanya ingin mendengar cerita-cerita baik dari anaknya. Karena tuntutan seperti itu hanya akan membuatnya tertekan hingga harus terlihat sempurna. Ya, setiap anak butuh pembimbing sekaligus pendengar baik yang bisa dipercaya dan mempercayainya.

Saya yakin kita semua menginginkan anak, adik, saudara kita (khususnya yang sedang menempah diri lewat pendidikan) dapat menjadi manusia yang beriman, bermoral, bijaksana, dan tentunya membawa kebaikan bagi sesamanya.

Jaga diri, jaga orang-orang yang kita sayangi.

#saveanakbangsa

 

Di Bawah Bendera Pelangi

Bumi  masih berputar, manusia dan semua yang hidup terus bergerak memenuhi kebutuhannya. Kebahagiaan adalah salah satunya. Aristoteles berkata, “Kebahagiaan adalah arti dan tujuan hidup, target keseluruhan dan akhir dari keberadaan manusia.” Lalu adakah di antara kita yang tak ingin hidup bahagia? Saya pastikan tidak. Namun konsep bahagia di antara kita belum tentu sama. Kebahagiaan tak memiliki standar. Sebagai ilustrasi, seorang ibu merasa bahagia bisa mengantarkan anaknya ke sekolah walau hanya dengan sepeda. Mungkin kita mengira mereka menderita dan sebaiknya membeli kendaraan yang lebih bagus agar bisa lebih cepat menuju tempat yang dituju. Padahal mereka sendiri merasa cukup dan bersyukur atas apa yang mereka punya.

Banyak orang terbiasa mengukur kebahagiaan orang lain berdasarkan standar yang diciptakannya sendiri. Kebiasaan yang tak pelak menimbulkan pemikiran keliru tentang orang lain. Bahkan pada tingkat ekstrim memaksa untuk sependapat dan menuruti aturan yang diyakininya. Siapa yang tahu seberapa bahagia seseorang, sampai ia sendiri mengatakannya?

Isu kontroversi memang selalu menarik untuk diperdebatkan. Seperti nasib kaum LGBT yang mencoba berdiri di tanah sendiri, Indonesia. Kita tahu kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) masih mendapat stigma negatif oleh masyarakat. Ditambah peran media dan pernyataan beberapa elit agama yang berupaya menegakkan tiang kebijakan intoleransi terhadap kaum non-heteroseksual. Masyarakat pun latah dan mengangguk setuju menelan doktrin negatif secara mentah-mentah. LGBT disebut-sebut sebagai sebuah ancaman, virus, sesuatu yang harus dimusnahkan.

Diskriminasi terhadap kelompok LGBT semakin menyeruak muncul ke permukaan dengan berbagai cara. Caci dan sumpah serapah bertubi-tubi ditujukan kepada si minoritas. Setuju atau tidak, kebencian itu kini merambat setara dengan perbuatan merugikan yang dilakukan oleh para pengedar narkoba dan teroris. Inilah nilai yang harus dibayar demi usaha mendapat kehidupan bebas dan bahagia. Lantas kerugian apa sebenarnya yang mereka bawa hingga dianggap layak disingkirkan? Atau ini hanya persoalan kedangkalan pengetahuan juga kesadaran kita dalam memandang perbedaan dan keberagaman berkehidupan? Apapun alasan yang menguatkannya, diskriminasi berkepanjangan itu memberi dampak buruk yang cukup besar bagi kelompok LGBT dalam berkarya dan menjadi sukses di dunia nyata layaknya kaum heteroseksual. Ke mana pun kaum LGBT pergi, selalu berbarengan dengan perlakuan tidak adil serta cemoohan-cemoohan pemuas suasana. Hal ini tentu menyulitkan mereka bergerak bahkan untuk menjadi diri sendiri. Suatu kemajuan atau kemundurankah?

Nilai Konservatif Agama

Alasan dominan ini cukup menggelitik telinga saya. Benar adanya bahwa di dalam ajaran agama (terutama agama Samawi) tidak ada ayat yang menyatakan menjadi seorang penyuka sesama jenis adalah benar. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bila seorang LGBT tekun beribadah dan  melakukan kebaikan? Apakah perbuatannya dianggap tak berarti? Kita sependapat bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan cinta kasih. Bukan cinta kepada kelompok tertentu saja.  Seperti yang saya pelajari dari agama yang saya anut, nilai tertinggi dari menjadi seorang manusia adalah memiliki kasih kepada semua orang. Bahkan dikatakan kepada seorang musuh pun saya harus mendoakannya. Lalu siapa saya yang bisa melabeli kelompok LGBT sebagai ciptaan Tuhan yang salah sehingga patut untuk diajuhi
? Baiklah, pernyataan ini tidak harus mendapat persetujuan dari pembaca. Namun dengan dalih agama juga, banyak pihak yang memaksa kaum LGBT untuk “sembuh” dan bertobat seolah menjadi LGBT hanyalah persoalan teknis yang bisa kembali menjadi seperti orang lain harapkan dengan mudah. Saya pikir urusan dosa dan kebaikan seharusnya hanya milik manusia dan Tuhan-nya.

Kebijakan Hukum

Walau dalam Undang-Undang 1945 telah tercatat bahwa hak hidup setiap warga negara dilindungi oleh negara, kelompok LGBT sampai saat ini tidak memiliki perlindungan hukum. Pemerintah masih berbalik badan untuk sekedar mengambil keputusan tepat bagi para pejuang hak kehidupan ini. Katakan saja ketika kaum LGBT menjadi korban tindak kriminal. Saat melapor mereka cenderung diperlakukan secara tidak baik oleh pihak kepolisian. Seakan kaum LGBT bukan termasuk kepada orang-orang yang keselamatan dan keamanannya harus dilindungi. Berbeda kasusnya saat mereka yang menjadi tersangka. Semua penyebab terjadi semata-semata karena mereka memiliki orientasi seksual yang “menyimpang”. Masyarakat menjadi korban doktrin pemberitaan kabur karena kelompok LGBT selalu dipandang secara subjektif. Fenomena semacam ini meneguhkan pernyataan bahwa (penegakan) hukum kian tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Minoritas diperlakukan secara tak waras.

Budaya = Kekayaan

Eksistensi LGBT sejatinya  telah lama melekat pada simbol-simbol Nusantara. Di antaranya adalah budaya Reog Ponorogo dari Jawa Timur. Pemimpin Reog ‘Warok’ tidak dianjurkan berhubungan dengan lawan jenis, karena akan menurunkan kekuatan yang dimilikinya. Jadi Warok kemudian mengambil ‘Gemblak’ orang yang menunggangi kuda lumping dan didandani layaknya wanita untuk menjadi temannya (berhubungan intim). Ada lagi kebudayaan dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis mengategorikan gender menjadi lima jenis, yaitu Oroane (pria), Makunrai (wanita), Calabai (pria menyerupai wanita), Calalai (wanita menyerupai pria), dan Bissu (bukan pria atau wanita). Bissu di sini bisa diartikan sebagai transgender. Suku Bugis percaya bahwa mereka mempunyai kekuatan sakti hingga disebut sebagai perantara antara dewa dan manusia. Saya menganggap keliru jika budaya Indonesia dijadikan alasan diikatnya kebebasan kaum LGBT dalam berjuang menuntut kebebasan. Karena beberapa budaya di Indonesia telah menunjukkan adanya keberagaman gender dalam setiap penyajian dan penampilannya. Tentu kebudayaan bukan sesuatu yang remeh dan terbentuk secara instan. LGBT tidak dapat ditiadakan. Kebudayaan jelas bukan senjata untuk membunuhnya.

Adalah hak setiap orang untuk suka atau tidak suka melihat kelompok LGBT “hidup”. Tapi menjadi kemirisan, jika sesama manusia yang belum tentu menduduki surga saling mendahului untuk menghakimi. Tangan tercipta bukan hanya untuk menunjuk, namun juga untuk diulurkan. Semoga kita bisa memandang dengan dua mata mereka yang berusaha berjuang meraih hak dan menjadi diri sendiri.  Saya bukanlah seorang yang hebat dengan suara yang memiliki banyak pendengar. Jika saja satu pembaca ikut berjalan bersama saya menggenggam tulisan ini, maka saya akan terus menyuarakan keadilan bagi mereka yang termarjinalkan. Perbedaan layaknya pelangi, seharusnya indah dan bercahaya. Indonesia bangsa yang beragam, sebaiknya rukun dan saling mendukung.

Salam Pancasila,

Terima Kasih.

 

 

 

Penulis: Yoseni Lita Veronika Turnip

Sumber gambar: https://img.okezone.com/

 

 

Esok masih ada, begitu juga harapan.